Akhir 2025 ditandai dengan keputusan yang berat hati dipilih, resign dari pekerjaan pertama.
Sejujurnya pagi ini tidak sebaik hari-hari sebelumnya, tapi sedikit lega karena sudah melepaskan satu tanggung jawab yang tidak lagi mengikat. Sewajarnya begitu.
Pekerjaan Pertama
Februari 2025, aku memulai pekerjaan baru setelah lulus kuliah. Ini kelanjutan dari kegiatan magang yang telah aku mulai semenjak tahun 2024. Rasanya senang, karena mendapat opportunity baru untuk belajar banyak hal, khususnya di bidang riset-riset sosial. Aku pikir jadi suatu chance yang baik karena bisa mengisi waktu luang sewaktu aku lulus, rencananya 3-4 bulan lalu mencoba opportunity yang lain.
Sayangnya aku terlena, ternyata bekerja dengan pace dan lingkungan yang baik menjadikan aku terlalu nyaman. Sebagai fresh graduate, aku lupa kalau harus mencari opportunity lain yang sesuai dan cocok denganku, juga sebagai bagian untuk membangun career path yang baik. Bulan ke 5-8 aku sama sekali tidak mencoba apapun, tenggelam dengan pekerjaan yang menyibukkan diri ini.
Pekerjaan pertama menyenangkan, dua projek untuk awal tahun juga menyenangkan. Kami terbang ke Padang, lalu ada pekerjaan training pula. Selebihnya setelah itu, banyak menyusun proposal dan learning-development untuk diri sendiri. Selain itu, lingkungan pekerjaan yang berbasis pertemanan menjadi hal yang menyenangkan pula. Aku pikir disini aku bisa belajar banyak, juga merasa nyaman dan aman di posisi pekerjaan yang ada.
Intinya, pekerjaan pertamaku sebagai social researcher sebetulnya bukan diawali dengan planning yang baik, tetapi sebuah kebetulan.
Kembali ke Work-from-Home
Dinamika di pekerjaan memang nggak bisa terhindarkan, mungkin kalau perubahan di internal diri bisa diakomodasi dengan baik melalui regulasi diri. Tapi, jika perubahan banyak dipengaruhi eksternal, kadangkala tidak ada lagi upaya yang bisa dilakukan. Perubahan yang terjadi terlalu cepat, dan sebagai karyawan dipaksa untuk beradaptasi.
Selama kurang lebih 4 bulan, kantor menerapkan work from home, dari yang awalnya bekerja secara on-site di kantor. Bagiku, yang biasa bertatap muka dengan banyak orang, perubahan pola kerja secara daring memberikan sedikit perubahan pada kinerja, karena kehilangan rutinitas yang telah terbangun. Meskipun demikian, aku tetap bertahan untuk bekerja sambil mencari opportunity yang lainnya.
Ternyata bukan Kebetulan yang Baik :)
Jika memang dikata kebetulan, memang betul karena aku tidak banyak merencana dan berencana dengan baik awalnya. Aku terlalu banyak melihat segala sesuatu dari satu PoV saja. Seperti, pasca lulus kuliah aku sudah menetapkan akan fokus pada Community Development, mentok untuk menjadi community officer yang terkait dengan program-program development di komunitas. Namun, ternyata ada banyak hal yang bisa dieksplorasi untuk mendapatkan career path yang sesuai.
Selama menjadi Social Researcher, ternyata pekerjaan yang aku dapatkan terlalu luas dan tidak spesifik. Sehingga memberi sedikit kebingungan untuk 'harus recognize diri sebagai apa ya? expertise di bidang apa ya?' karena se-Palugada itu! Okey, sehingga aku putuskan kalau ternyata... bukan kebetulan yang baik. Memang segala sesuatunya harus direncanakan step-by-step untuk mencapai tujuan akhir yang jelas.
The main problem is "i can't define my goals & purpose.."
Moral of The Story
Setelah menapaki status sebagai Job Seeker, banyak hal yang aku pahami. Dengan tagline long life learner, aku santai saja karena tidak terkejar apa-apa lagi, the key is explore! Memang semuanya harus dicoba satu-satu, mungkin beberapa sudah menemukan karir yang jelas dari awal, sayangnya, beberapa yang seperti aku tetap harus eksplorasi karir yang sesuai pasca lulus kuliah. Tentunya cukup membutuhkan waktu yang lama, ditambah lagi untuk menjadi officer, perlu step-by-step yang panjang dan kualifikasi selangit (meskipun freshgraduate~).
1. First thing first, menentukan tujuan dari awal. Semenjak kuliah idealnya udah tau apa yang ingin kita capai dan karir apa yang ingin dijalankan pasca lulus nantinya, khususnya kalau kita memang mau jadi officer/ bekerja ya. Mungkin akan berbeda kalau mau fokus jadi entrepreneur.
2. Susun portofolio yang align, misal ingin berkarir di Marketing - mulai susun portofolio via training/ bootcamp, hand on project, dan intern yang membantu buat develop career path tersebut. Jadi exploring dimulai dari pas kuliah. (Ini juga menyedihkan karena beberapa pekerjaan inginya pengalaman 1-2 tahun, asumsinya sebagai freshgraduate harus udah punya pengalaman kerja duluan dari semester 4)
3. Relasi! Bangun relasi yang kuat, siapa tau selain pekerjaan fixed, ada banyak projek-projek lainnya.
Terus, kalau udah explore tapi tetep belum nemu yang cocok, atau justru nemu yang baru ditengah prosesnya dan mulai dari 0 lagi gimana dong?
Keep Going, sepertinya tidak ada yang terlambat ya. Sesuai timeline dan jalan-nya masing-masing. Rasanya, semua sudah tertakar, jadi nggak mungkin akan tertukar =) positifnya begitu.
Resign!
Sampai pada penghujung 2025, akhirnya memutuskan resign dan menjadi job seeker kembali. Memutuskan resign dari berbagai faktor x y z yang ada dan kondisi saat ini yang menyulitkan, agak membuat worry ya. Tapi bertahan di kondisi yang serba sulit dan kurang mendorong self growth agak sulit juga. Akhirnya, resign dari pekerjaan pertama.
Lalu setelah resign, apa yang terjadi?
Ternyata eksplorasi karir dan pekerjaan menjadi hal yang wajib ya, dan pengalaman pertama untuk menyerahkan surat resign via email juga lumayan berat. Karena artinya harus meninggalkan segala lingkungan dan pekerjaan yang sudah jadi rutinitas.
Tapii, finally sudah lebih ringan. Tidak lagi berat karena memutuskan untuk bertahan.
Juga tidak lagi khawatir karena merasa selalu dicukupkan.
Keputusan sulit memang di akhir, tetapi lebih baik begitu.
Semoga Tuhan Selalu Mudahkan Setiap Langkah Doa & Harapan
Novita 2026
Komentar
Posting Komentar